[My Daily Message on WhatsApp] PENGAMPUNAN yang MEMULIHKAN

“Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh. 8:11)

 

Semenjak manusia jatuh dalam dosa, dosa menjadi atribut yang menempel di atas manusia. Kisah yang terjadi di Yohanes 8:1-11 ini memperlihatkan dosa telah dipatahkan oleh Kasih Kristus. Yang menarik dari kisah ini, di awali dengan Yohanes 8: 2 menyebutkan: “Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka”. Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk tinggal dalam persekutuan dengan Tuhan, pagi itu banyak orang sedang mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus, mereka menikmati hadirat Allah. Namun di ayat 3 mengatakan “Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah”. Satu ironi dari dua ayat ini, ayat 2 memperlihatkan manisnya tinggal dalam hadirat Allah, namun ayat 3 memperlihatkan suasana maut akibat tinggal dalam dosa.

Saudara-saudari, kisah ini sebenarnya memperlihatkan kondisi kita, ketika kita pagi hari bangun hendak menikmati Tuhan, iblis sebenarnya juga tidak rela, iblis akan selalu menuduh kita dengan dosa-dosa kita, sehingga kita tidak bisa menikmati hadirat Allah. Ketika Tuhan Yesus melihat kondisi ini, ayat 11 mengatakan: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Tuhan kita adalah Tuhan yang mengampuni, setiap kita hendak datang kepada-Nya, jangan tertipu oleh tuduhan iblis. Dia Allah yang penuh kasih, Dia mengampuni kita. Segala tuduhan iblis telah dipatahkan dengan kasih dan pengampunan-Nya. Kita perlu belajar setiap datang pada-Nya, mengaku dosa-dosa kita, demi iman mengambil darah-Nya untuk menudungi kita. Ibrani 4:16 mengatakan “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Advertisements

[My Daily Message on WhatsApp] DIA DATANG SEBAGAI ANUGERAH

“sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh. 1:17)

 

Tuntutan standar kehidupan tertinggi pada zaman perjanjian Lama bagi orang Israel adalah melakukan segala ketentuan hukum Taurat. Hukum Taurat adalah hukum yang menuntut manusia menurut apa adanya Allah. Namun sepanjang zaman itu, tidak ada satupun orang bisa berbagian akan Allah melalui hukum taurat. Setelah umat manusia tidak dapat memenuhi segala tuntutan hukum taurat, maka Allah sendiri, dua ribu tahun yang lalu berinkarnasi menjadi manusia yang sepenuhnya menggenapi hukum taurat. Injil Yohanes mewahyukan bahwa kedatangan Allah sebagai manusia ini untuk membawa Allah ke dalam diri manusia. Dia datang sebagai anugerah dan realitas. Realitas adalah Allah menjadi nyata bagi manusia dan anugerah adalah Allah dinikmati oleh manusia. Kasih karunia atau anugerah ini menyuplai manusia dengan apa adanya Allah guna memenuhi tuntutan-tuntutan Allah.

Tuntutan atau standard Allah tidak pernah berubah. Namun ketika kita hidup di zaman Perjanjian Baru, zaman dimana anugerah dengan limpah dinyatakan (menjadi realitas) kepada kita, kita bisa memenuhi segala tuntutan standard Allah. Bagaimana caranya? Caranya adalah Kristus. Kristus telah menjadi anugerah dan realitas bagi kita, jadi jangan sekali-kali kita menggunakan kekuatan diri, usaha diri, atau kebaikan diri untuk mencoba memuaskan Allah. Cukup terbuka dan bersandar kepada anugerah ini. Ketika situasi datang jangan mencoba mengeluarkan kesabaran kita, kesabaran kita itu terbatas dan palsu. Tetapi Kristuslah kesabaran kita, kesabaran yang tanpa batas dan sejati. Inilah Anugerah, kita tidak mampu namun Kristus yang di dalam mampu. Menyeru nama Tuhan adalah salah satu praktik mudah untuk menikmati anugerah dan realitas. Bangunlah kehidupan yang menyeru nama Tuhan agar anugerah dan realitas bertambah di batin.

[My Daily Message on WhatsApp] MENDESAK DIA MENJADI TUAN DALAM KITA

“Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka” (Luk. 24:29)

Setelah hampir tiga setengah tahun menikmati penyertaan Tuhan secara lahiriah atau secara fisik, dalam Alkitab ada catatan satu titik dimana murid-murid merasa kehilangan harapan, kehilangan sukacita, kehilangan Yesus yang selama ini mereka lihat. Hal ini terjadi setelah Tuhan Yesus mati di kayu salib. Meskipun secara fakta mereka telah mendengar perkataan Tuhan bahwa Dia akan bangkit, bahkan perkataan ini sampai tiga kali diucapkan-Nya (Mat. 16:21-27; Mat. 17:22-23; Mat. 20:17-19) mereka tetap saja merasa Tuhan telah tiada. Lukas pasal 24 ini menunjukkan bagaimana dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus membicarakan Yesus yang telah mati tersalib, namun tidak menyadari kehadiran Yesus dalam perjalanan itu. Mereka tidak mengenal persona Yesus yang telah bangkit.

Penyebab mereka mengalami satu kondisi kehilangan penyertaan Allah adalah mereka tidak membiarkan firman atau perkataan Tuhan itu menjadi iman di dalam mereka. Bahkan di ayat 27 Yesus telah menjelaskan seluruh kitab suci, namun mereka tetap saja tidak paham Dia Sang Kebangkitan itu. Saudara-saudari, adakalanya kita seperti mereka, apakah ketika dalam kondisi seolah-olah tiada harapan, kita sadar Kristus sang Persona Kebangkitan itu sedang berjalan bersama kita? Kondisi yang membuat dua murid itu menyadari bahwa Kristus yang bangkit itu sedang bersama mereka adalah dalam ayat 29 mereka mendesak Dia untuk tinggal bersama mereka, dan ketika Dia memecahkan roti, mereka sadar itu Tuhan. Untuk mengalami Dia sang Kebangkitan, desaklah Tuhan, paksalah Tuhan untuk berumah dan menjadi tuan yang memecahkan roti dalam hidup kita. Niscaya, Dia pasti membawa kita melihat dan mengalami kebangkitan itu.

[My Daily Message on WhatsApp] MASIH KURANG SATU HAL LAGI

“Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” ” (Luk. 18:22)

Bagian kedua dari Lukas pasal 18, menunjukkan satu hal yang begitu dalam. Ketika ada seorang pemimpin, kaya, dan bahkan melakukan segala perintah hukum taurat datang kepada Tuhan, namun akhirnya pemuda itu kecewa dengan perkataan Tuhan, dan pergi meninggalkan Tuhan. Jika dilihat dari kacamata dunia, orang ini sangatlah baik. Dari segi kedudukan dia pemimpin, dari segi sosial dia orang kaya, bahkan dari segi agama dia adalah seorang yang patuh pada hukum taurat semenjak muda. Orang yang sedemikian sempurna bagi dunia. Namun di ayat 22, Tuhan Yesus menganggap semuanya itu tidak terhitung di hadapan-Nya. Apa yang bagi Dunia terpandang baik, bahkan sempurna, di pandangan Allah tidak ada artinya. Tuhan dengan jelas mengatakan “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan”. Tuhan hanya minta satu hal yang perlu dilakukan, agar dia terhitung di hadapan Allah. Tiga hal yang dia miliki, sama sekali tidak ada yang Tuhan inginkan.

Mungkin di atas kita, banyak hal yang baik. Bahkan duniapun mengganggap itu baik. Entah itu prestasi kita, kekayaan kita, atau bahkan kehidupan rohani kita. Namun apakah satu hal itu ada pada kita? Satu hal itu adalah: “juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, …kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” inilah satu hal yang Tuhan inginkan. Tuhan menginginkan kita memperhatikan orang lain, dan mengikut Tuhan. Dua perkara ini sebenarnya mewahyukan mengenai Gereja. Perkara yang begitu besar, namun banyak yang melupakan dan tidak diperhatikan. Saudara-saudari satu hal ini adalah gereja. Sesibuk-sibuknya kita di dunia ini, kita perlu datang kepada gereja, memperhatikan gereja. Apakah satu hal itu ada pada kita? Apakah kita masih peduli dengan sidang-sidang gereja, masihkah kita ada beban untuk menjenguk saudara/i yang lemah, mempersembahkan harta? Moga kita menjadi orang yang memenuhi satu hal permintaan Tuhan.

[My Daily Message on WhatsApp] MENANG ATAS UANG

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”” (Luk. 16:13b)

Kehidupan manusia di dunia ini, tidak terlepas dari Mamon atau uang. Pada dasarnya uang adalah alat yang dipakai iblis untuk mengukur atau menilai segala sesuatu. Lihatlah di sekeliling Anda, mulai dari perabot rumah, makanan di atas meja, mobil di garasi, ponsel, hingga pakaian yang Anda pakai, semuanya ada nilainya, semuanya ada harganya. Kita perlu melihat dengan jelas, apakah esens dari uang ini. Pada awalnya dalam Kejadian 1:29 Allah memperlihatkan bahwa segala sesuatu diberikan kepada manusia bagi eksistensinya adalah gratis, Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Namun semenjak kejatuhan manusia, iblis memakai uang untuk menilai segala sesuatu, dengan demikian iblis mudah mengendalikan manusia. Dengan uang, iblis bisa membuat manusia meninggalkan Allah, sibuk mencari uang, stres karena bisnis gagal, bahkan dengan uang iblis bisa membuat manusia pesta pora.

Saudara-saudari, betapa jahatnya uang itu, karena esens di balik uang adalah iblis. Tuhan Yesus memberi tahu kita dalam Lukas 16 agar kita waspada terhadap mamon. Lewat kita tidak mengikat persahabatan dengan mamon, lewat kita mempersembahkan hati kita kepada Allah, maka perkara yang timbul karena uang tidak dapat menjamah atau menggoyahkan kita. Mengabdi kepada tuan yang sejati, yaitu Allah itulah yang Allah kehendaki. Orang yang mempersembahkan hati kepada Allah, terhadap uang sama sekali tidak terjamah, justru memakai uang itu untuk pekerjaan Allah, bagi gereja – kaum saleh yang membutuhkan atau kekurangan. Tidak perlu kuatir terhadap uang, bukankan Tuhan Yesus pernah berkata: “berilah maka kamu akan diberi”.

[My Daily Message on WhatsApp] KASIH TERBAIK BAGI TUHAN

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30)

Satu perkara yang besar dalam kehidupan orang Kristen adalah mengasihi Allah. Tidak ada pengajaran manapun yang mengajarkan hal yang sedemikian. Dalam Markus 12:30 inilah Tuhan Yesus mewahyukan perkara mengasihi Allah. Mengapa kita perlu mengasihi Allah? Satu Yohanes 4:19 memberi tahu kita bahwa “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” Allah menjadi manusia dan mati tersalib bagi kita adalah salah satu bukti Dia mengasihi kita hingga puncaknya. Sehingga adalah hal yang logis, masuk akal, dan sewajarnya ketika kita memiliki respon untuk mengasihi Allah. Lalu bagaimana kita mengasihi Allah? Tuhan Yesus memberitahu bahwa kasih kita kepada Allah haruslah kasih dengan standar tertinggi. Kasih dengan segenap jiwa kita, segenap akal budi kita, dan segenap kekuatan kita.

Saudara-saudari, yang Allah kehendaki di atas diri kita adalah kita mengasihi Dia. Apapun kondisi kita kita tetap harus mengasihi Tuhan. Ingatlah kondisi Petrus, ketika ia dalam kondisi penuh penyesalan karena telah menyangkal Tuhan, dia merasa sudah tidak layak mengasihi dan mengikuti Tuhan. Petrus dan teman-temannya kembali ke profesi lamanya sebagai nelayan. Namun di sana Tuhan yang terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada Petrus. Tuhan bertanya tiga kali kepada Petrus tiga kali, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:17). Hasil dari Petrus yang ditanggalangi Tuhan ini adalah ia menjadi seorang yang berdiri teguh mengasihi Tuhan hingga dia martir. Jangan lemah, tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan meskipun dalam kondisi lemah, penat, atau bosan. Jangan tertipu perasaan kita, ingat Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengasihi Dia dengan segenap perasaan kita.

[My Daily Message on WhatsApp] Mengapa Kamu begitu Takut?

“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk. 4:40)

Apabila kita melihat kembali sepajang hidup kita sebagai orang Kristen, tentunya kita akan melihat juga bagaimana ketika kita dalam kondisi lemah, kita terombang-ambingkan oleh berbagai kondisi. Seperti halnya ketika murid-murid berada di perahu, tiba-tiba terjadi angin topan. Angin topan ini melambangkan banyak permasalahan yang menimpa perjalanan hidup Kristiani kita. Kekhawatiran, ketakutan itulah yang menjadi reaksi kita ketika permasalahan datang. Berbeda dengan Tuhan Yesus, dalam pasal yang sama ayat yang ke 38, diperlihatkan bahwa Tuhan Yesus justru tertidur dalam kondisi topan yang mengamuk. Ini menunjukkan bahwa Dia berada di atas badai yang mengancam dan tidak terganggu olehnya. Dia benar-benar mengalami perhentian dan damai sejahtera dalam kondisi yang mengancam sekalipun.

Ayat 40 Tuhan bertanya kepada murid-murid, “mengapa kamu begitu takut?” demikian juga ketika kita dalam kondisi mengalami badai kehidupan, Tuhan bertanya kepada kita “mengapa kamu begitu takut?” Saudara-saudari, bukankah Tuhan kita sedang bersama kita, Dia mau memberikan perhentian kepada kita. Sementara itu kita sering tidak menyadari kehadiran Tuhan, justru pusing bagaimana mengatasi masalah ini. Jangan takut! Itulah yang Tuhan katakan, dan menjadi penghiburan bagi kita. Kita perlu mengalami Tuhan sebagai perhentian dan damai sejahtera kita, Dialah penghibur kita, sekalipun perahu kita sedang ditimpa topan. Haleluya, Allah yang menyertai kita, menjadi penghiburan kita. Berbagian dalam perhentian-Nya dan kita akan merasakan bahwa Dia adalah Tuhan yang berkuasa, segala sesuatu berada di bawah kuasa-Nya.