Uncategorized

‘MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS BERSINAR’


‘MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS BERSINAR’

(Kasus mahasiswa UKSW Salatiga di tengah persaingan dengan PTN)

Oleh : Yeremia Alfa Susetyo, Mahasiswa FTI-UKSW

Memasuki abad ke-21 ini, perkembangan zaman telah menuntut segala aspek kehidupan masyarakat harus mengalami perubahan total. Daya dobrak itu bermula dari perkembangan teknologi informasi yang mencapai puncaknya pada awal dekade 2000an ini. Saat ini kita telah memasuki era informasi digital, dimana segala sesuatu menjadi serba cepat dan instan. Melakukan segala sesuatu menjadi lebih mudah dan cepat. Kehidupan sosial masyarakatpun ikut terseret dalam arus informasi digital ini. Masyarakat menjadi lebih kritis, aktif, dan selalu ingin melakukan sesuatu serba cepat, masyarakat juga cenderung lebih reaktif. Tuntutan dunia sosial ini juga berdampak pada tuntutan dunia kerja dan bisnis. Dunia kerja dan bisnis menuntut sumber daya manusia yang kreatif di era informasi digital ini. Seolah-olah dunia kerja dan bisnis sudah menolak sumber daya manusia yang konvensional, yang tidak tanggap terhadap arus informasi digital.

Melihat fenomena sedemikian, dunia pendidikanpun seolah tidak mau disalahkan. Dunia pendidikan menjadi lebih tanggap, sekolah-sekolah mulai banyak bermunculan, universitas-universias juga mulai membuka fakultas dan program studi baru. Sekolah dan universitaspun mulai berbenah, mereka mulai membenahi sistem dan kualitas mereka. Persaingan antar sekolah dan universitas menjadi lebih ketat, baik dari segi kualitas maupun persaingan segi finansial.

Kebangkitan dunia pendidikan ini juga diiringi oleh kesadaran masyarakat yang tinggi. Jika pada era-era sebelumnya, masyarakat hanya mendapat pendidikan sampai tingkat SMA saja. Bermodalkan ijazah SMA, pada masa itu masyarakat bisa mendapat kedudukan dalam pekerjaan. Namun, zaman telah berbicara, zaman juga berkembang, semuanya itu telah berlalu, ijazah SMA saat ini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berharga, di dunia kerja dan bisnis hanya menempati posisi-posisi bawah. Inilah salah satu faktor yang membuat kesadaran masyarakat meningkat, akan pentingnya pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Mereka mulai melihat bagaimana tuntutan zaman meminta sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan cepat tanggap dengan segala kemungkinan di era digital ini. Dari setiap lapisan masyarakat dari desa sampai kota, dari masyarakat menengah ke atas, hingga masyarakat menengah ke bawah mulai banyak yang menimba ilmu di perguruan tinggi.

Persaingan antar perguruan tinggipun semakin ketat, mereka berlomba-lomba untuk menjaring mahasiswa sebanyak-banyaknya. Berbagai carapun mereka lakukan, melalui promo-promo di berbagai media informasi, termasuk promo ke sekolah-sekolah menengah, bahkan buruknya mereka juga saling menjelek-jelekkan antar perguruan tinggi. Hal ini membuat masyarakat menjadi bingung untuk menentukan sikap, mana perguruan tinggi yang akan dipilihnya.

Ketika dihadapkan pada pilihan untuk memilih perguruan tinggi, pilihan masyarakat sebagian besar jatuh pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dengan berbagai alasan seperti kualitas dan biaya. Namun untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidaklah gampang. Perguruan Tinggi Negeri, menggunakan aturan-aturan yang ketat untuk menyeleksi mahasiswa baru. PTN dengan peminat yang mencapai ribuan, paling hanya puluhan yang diterima. Dengan perbandingan 1 : 100, 1 orang diterima dari 100 pendaftar PTN, ternyata minat masyarakat untuk masuk ke PTN masih saja tinggi. Mereka berpikir jika mereka bisa berkuliah di PTN, akan ada rasa bangga dan gengsi melalui menyandang status sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Pilihan masyarakat yang cenderung memilih Peruruan Tinggi Negeri (PTN), membuat nasib Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi penuh ketidakpastian, Perguruan Tinggi Swasta (PTS), menjadi pilihan terakhir masyarakat. Ibaratnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) adalah sebuah kontainer sampah yang berisi mahasiswa-mahasiswa buangan dari PTN. Akibatnya PTS yang kurang berkompeten, dan tidak mampu bersaing dari segi kualitas dengan PTN memilih tutup atau menutup beberapa fakultasnya. Masyarakat masih melihat dengan sebelah mata terhadap PTS, anggapan masyarakat adalah PTS hanya ingin mencari keuntungan sepihak, menjadi badan usaha profit, dan tidak mementingkan kualitas/mutu pendidikannya, serta hanya mencetak gelar Sarjana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di dunia kerja, bahkan parahnya anggapan masyarakat, PTS hanya mencetak pengangguran-pengangguran baru yang akan menimbulkan masalah-masalah sosial di negeri ini.

Kondisi Perguruan Tinggi Swasta diperparah dengan keluarnya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU-BHP). UU-BHP ini akhirnya disahkan setelah menuai kontroversi yang panjang dari berbagai pihak. Prinsipnya UU-BHP ini adalah menjadikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Hal inilah yang membuat PTN menjadi liberal-kapitalis yang berlomba-lomba mencari keuntungan. PTN-pun mulai membuka pintu masukknya semakin lebar. Jika dahulu hanya melalui UMPTN/ SPMB kini PTN mulai menyelenggarakan Ujian Mandiri (UM) masuk ke PTN. Hasilnya bisa ditebak, dengan pintu masuk PTN yang semakin elastis, sehingga membuat masyarakat mudah untuk masuk ke PTN. Akibatnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi sepi peminat, yang akan mengakibatkan PTS tersebut tutup. Yang kuat semakin bertahan, yang lemah semakin lemah dan terpinggirkan, “hidup segan, mati tak mau”. Inilah fenomena yang terjadi di dunia pendidikan tinggi saat ini.

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ternama di negeri ini terletak di kota Salatiga – Jawa Tengah. PTS yang berdiri semenjak 1956 ini telah lama bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Seperti halnya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lainnya, universitas ini masih dipandang sebelah mata oleh berbagai kalangan, meski banyak prestasi telah ditorehkan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Mereka beranggapan bahwa UKSW hanyalah perguruan tinggi yang hanya mencari keuntungan semata, tanpa memperhatikan kualitas pendidikannya. Citra seperti inilah yang melekat pada masyarakat terhadap UKSW juga PTS lainnya.

Melihat citra buruk UKSW di mata masyarakat, UKSW ingin menghilangkan anggapan buruk tersebut. UKSW mampu menghasilkan sarjana-sarjana yang berkualitas, UKSW juga mampu mengukir prestasi di berbagai bidang. Namun, anggapan buruk masyarakat tidak mudah dihilangkan, meski dengan sisi positif dan prestasi yang UKSW berikan kepada masyarakat. Inilah yang menjadi suatu tantangan berat bagi UKSW. Selain harus menghasilkan lulusan-lulusan yang handal dan perbaikan kualitas pembelajaran, UKSW harus menorehkan sesuatu yang berharga bagi masyarakat dan Negara, ini bukanlah hal yang mudah.

Jika kita melihat aktivitas di kampus UKSW, tidaklah berbeda dengan aktivitas-aktivitas di universitas lain. Kegiatan belajar berlangsung normal. Dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 20.00 kegiatan akademik berlangsung. Lingkungan yang hijau juga menambah semangat dalam segala aktivitasnya. Dengan lingkungan yang tidak terlalu luas dan tidak adanya pemisahan gedung kuliah antar fakultas membuat suasana keakraban antar mahasiswa dan mahasiswa, mahasiswa dan dosen semakin terjalin serasi. Inilah salah satu nilai plus yang sepintas dapat kita lihat di UKSW.

Namun jika kita melihat lebih dalam, dari sisi mahasiswa UKSW, sangatlah memprihatinkan, terutama dalam hal kesadaran mereka sebagai seorang mahasiswa, seolah-olah mereka belum paham apa bedanya menjadi mahasiswa dan menjadi anak SMA. Tidak sedikit dari mereka yang datang kuliah ke kampus hanya sekadar kumpul bareng teman, nongkrong di kafe atau supaya layak disebut mahasiswa, atau bahkan daripada di rumah tidak ada kerjaan. Itu semua memang tidak salah, tetapi tujuan utama sebagai civitas akademika UKSW adalah sebagai insan yang akan dibentuk dalam berbagai hal. Hal yang paling biasa, misalnya dalam hal tanggung jawab, ketika dosen memberi tugas dan memberikan deadline, masih ada mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas dengan berbagai alasan, alasan klasik seperti lupa, kemarin tidak masuk sudah tidak asing bagi dosen-dosen yang member tugas.

Jika kita telusuri, mengapa kesadaran sebagian besar mahasiswa UKSW sangat minim bahkan minus, akan banyak akar yang ditemukan. Dari proses penerimaan mahasiswa baru, penerimaan mahasiswa baru di UKSW tidaklah seketat di PTN, di UKSW mengenal PEMAMIK (Penelusuran kemampuan akademik) yang merujuk pada nilai-nilai SMA, juga Tes seleksi. Rata-rata jumlah inputan mahasiswa per tahun adalah di atas 2000, jadi begitu mudah kan masuk ke UKSW? Inilah salah satu akar tersebut, mahasiswa beranggapan bahwa karena mudahnya masuk ke UKSW, jadi mereka seolah tidak sadar kalau mereka sudah menjadi mahasiswa, karena ternyata tidak diperlukan perjuangan untuk menjadi mahasiswa. Akar lain misalnya, seperti fenomena yang diuraikan di atas, bahwa PTS adalah buangan mahasiswa-mahasiswa yang tidak diterima di PTN, hal inilah yang harus diakui UKSW, bahwa kualitas UKSW di bawah PTN.

Kondisi mahasiswa yang sedemikian membuat UKSW menjadi menanggung beban yang tambah berat. Selain harus meningkatkan kualitas akademiknya, menunjukkan citra positif di mata masyarakat, UKSW juga harus mengubah mahasiswanya yang sebagian besar berkesadaran minim menjadi mahasiswa berdedikasi. Memang menjadi mahasiswa itu mudah, tetapi menjadi mahasiswa berdedikasi itu susah. Sekali lagi, inilah tantangan berat bagi UKSW.

Jika di atas telah diuraikan bagaimana kondisi PTS di tengah persaingan dengan PTN, dimana secara kasar diibaratkan bahwa UKSW adalah sebuah kontainer sampah yang menampung mahasiswa buangan dari PTN, maka inilah yang akan menjadi nilai plus tertinggi, yang melebihi segalanya bagi UKSW. Tantangan memang berat, mengubah ‘sampah’ menjadi ‘emas yang bersinar’ namun keberhasilannya akan menjadi kebanggan yang luar biasa.

Jika PTN mampu menghasilkan ‘emas yang bersinar’ itu wajar karena yang diubah hanyalah ‘emas yang kusam oleh debu’ namun jika UKSW mampu menghasilkan ‘emas yang bersinar’ itu baru luar biasa karena yang diubah adalah ‘tumpukan sampah’. Inilah keberhasilan yang sesungguhnya yang akan dimiliki oleh UKSW. Perguruan Tinggi Negeri tidak akan pernah memiliki kebanggan seperti yang dimiliki UKSW. Jayalah selalu UKSWku, menjadi berkat Tuhan di sepanjang zaman, mengubah sampah menjadi emas yang bersinar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s