Uncategorized

Congratulation for USA’s people

Congratulation

to:

Mr. Barack Obama

as President of USA

barack-obama-capitol

CHANGE WE NEED

Advertisements
Uncategorized

Fenomena Golput

GOLPUT DI PEMILU 2009 ADALAH KEKUATAN POLITIK YANG PATUT DIPERHITUNGKAN

“MASA GOLPUT SEHARUSNYA TIDAK BERHAK BERPENDAPAT DI PEMERINTAHAN 2009 – 2014”

(Oleh: Yeremia Alfa, Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi-UKSW)

Menjelang pemilu 2009 ini, sebagian besar masyarakat kita belum memiliki sikap politik yang jelas, mereka sebagian besar masih bingung untuk menentukan pilihan, terutama di pemilu legislatif yang akan digelar April 2009 mendatang, salah satu faktornya adalah begitu banyak parpol yang mengikuti pemulu 2009 mendatang, ditambah jumlah caleg-caleg yang begitu banyak, sehingga masyarakat bingung untuk memilih caleg/ anggota DPD yang mereka tidak kenal sama sekali.

Akhir-akhir ini, isu-isu klasik mulai muncul kembali. GOLPUT, ya golongan putih atau tidak menggunakan hak pilih pada pemilu. Golput merupakan suatu ungkapan/ekspresi dari masyarakat kita yang merasa/menganggap bahwa pemilu tidak akan mendatangkan perubahan. Hal yang menarik dari fenomena golput ini adalah jumlahnya sangat fantastis, bahkan di suatu pilkada di daerah angka golput mencapai 50%. Jika hal ini terjadi pada pemilu mendatang, maka yang akan menjadi pertanyaan adalah dimana kekuatan partai pemenang jika angka golputnya lebih tinggi?

Menurut salah satu peneliti golput disebabkan oleh 3 hal yakni: (1) Adanya kendala administratif, misalnya pemilih tidak terdaftar atau pindah alamat. (2) Adanya halangan misalnya pada saat pemilu, pemilih sedang bepergian, atau ada halangan lain. (3) Masyarakat memiliki penilaian bahwa caleg, partai, atau capres dianggap tidak mampu membuat suatu perubahan, atau bahkan mereka menilai adanya sistem yang “kotor”. Poin ke tiga inilah yang dianggap berbahaya, mampu membuat suatu pengaruh. Mantan presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengambil sikap GOLPUT di pemilu mendatang, jelas alasannya adalah konflik internal di partainya, PKB. Hal ini membuat pengaruh besar bagi para pendukung Gus Dur untuk ikut serta Golput.

Ketua MPR Republik Indonesia Hidayat Nur Wahid, mengusulkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membuat fatwa bahwa GOLPUT itu HARAM. Namun wacana ini menimbulkan tanggapan yang beragam di kalangan masyarakat, dan politisi. Di sini seolah-olah, sang ketua MPR sudah “putus asa” menghadapi isu-isu golput dan kenyataan di Pilkada berbagai daerah yang angka golputnya tinggi.

Kini semuanya itu dikembalikan kepada masyarakat, bagaimana sikap mereka di pemilu mendatang. Pada dasarnya golput adalah suatu kekuatan politik yang tak dapat diabaikan, kekuatan yang pesimis dan frustasi. Di sini merupakan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, khususnya untuk menciptakan generasi pemimpin yang handal dan bersih dari segala tindakan kotor. Atau dengan kata lain GOLPUT adalah ketidakpercayaan bangsa terhadap bangsanya sendiri.

Akhirnya, suatu pertanyaan timbul,

Apakah masyarakat yang GOLPUT di pemilu 2009, berhak berpendapat di pemerintahan 2009-2014? atau bisakah disamakan dengan oposisi pemerintah? sementara mereka tidak ikut menentukan pilihan di 2009?????